21.4 C
Indonesia
Sel, 28 Maret 2023
close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

21.4 C
Indonesia
Selasa, 28 Maret 2023 | 6:44:21 WIB

Fokus Dukung Zero Stunting, Ini Tips Sederhana Hj.Etty Maryati Salim (Ummy Etty)

Depok | detikNews – Hadir sebagai pembuka acara Pelatihan Program Kesehatan Keluarga sebagai bentuk tindak lanjut atas pelaksanaan Anggaran Tahun 2023 dalam mendukung program kesehatan Ibu dan Anak, serta kesehatan keluarga lainnya guna mewujudkan program ‘Zero Stunting’ serta Duta KIA, di Kecamatan Cisalak Pelatihan Program Kesehatan Keluarga di Ruang Alamanda Wisma Hijau, Jalan Mekarsari Raya No.15, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Hj.Etty Maryati Salim (Ummy Etty) istri Wakil Walikota Depok berikan imbauan keutamaan asupan ASI bagi Balita.

Ummy Etty menyebut, bahwa Prioritas utama atau sasaran dari program pencegahan stunting adalah Ibu hamil dan anak-anak usia 0-2 tahun atau rumah tangga dengan seribu hari pertama kelahiran (1.000 HPK). Ini karena kebutuhan akan kecukupan gizi bagi anak-anak adalah sejak masa kehamilan.

“Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan. Lembaga Kesehatan Millenium Challenge Account Indonesia menyarankan, agar Ibu yang sedang mengandung selalu mengonsumsi makanan sehat nan bergizi, maupun suplemen atas anjuran Dokter”, ucap Istri Wakil Walikota Depok Selasa 14/2/2023.

Baca juga:  Hadiri Undangan Yayasan Raflesia di Acara Gembira Ramadhan 1444H, Ummy Etty Maryati Salim Ajak Warga Membangun Empati Terhadap Sesama

“Pemantauan kesehatan dan kecukupan gizi pun harus terus dilakukan sampai anak minimal memasuki usia dua tahun, usia lima tahun, bahkan sampai dengan menginjak usia remaja. Karena pada masa tersebut sedang terjadi masa pertumbuhan, dimana sangat memerlukan asupan gizi yang memadai”, terangnya.

Lebih jauh Istri Wakil Walikota Depok yang dikenal super aktif ini menerangkan, bahwa target penurunan stunting bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat dan kualitas Sumber Daya Manusia.

“Stunting juga bisa disebabkan oleh infeksi pada Balita yang berulang kali, atau karena keturunan. Oleh karena itu, penyelesaian terhadap masalah stunting pun harus dilakukan dengan berbagai cara secara terintegrasi dan kolaboratif, oleh berbagai pihak atau instansi selaku pemangku kepentingan”, terangnya.

“Menurut World Health Organization (WHO), masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat jika di Negara, Provinsi, Kabupaten atau Kota dikatakan baik jika <20%, kurang jika berada pada rentang 20-29%, jelek jika antara 30-39%, dan sangat buruk jika ≥40%. Intervensi gizi harus di implementasikan pada semua level untuk mengatasi penyebab masalah dan meningkatkkan komitmen oleh sektor nutrisi”, imbuhnya.

Baca juga:  Langkah DJKA Menguatkan Dinding Tanah Jalur Kereta Api yang Longsor di Empang, Bogor untuk Memastikan Keselamatan Perjalanan KA

Menyikapi permasalahan Stunting yang sedang menjadi target utama Pemerintah, Ummy Etty pun memberikan tips sederhana yang bisa dilakukan secara mandiri bagi masyarakat menuju terwujudnya ‘Zero Stunting’ yang Kaffah, dengan tetap fokus memberikan asupan ASI Eksklusif selama minimal 6 bulan kepada para Balita dan untuk selalu mengkonsumsi asupan makanan Booster ASI bagi para Ibu hamil.

“Pemerintah sebenarnya telah membuat regulasi tentang menyusui, antara lain UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Kesehatan, terutama Pasal 128, 129, 200 dan 201. Aktivitas menyusui juga diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, terutama Pasal 83. Selain itu, terdapat juga Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Secara garis besar, peraturan tersebut mengakui, menyusui merupakan hak ibu dan anak. Maka, segala tindakan menghalang-halangi pemberian ASI adalah sebagai perbuatan melawan hukum”, ungkapnya.

“Rumah sakit, Puskemas, Klinik Bersalin, Dokter, dan Bidan yang bersentuhan langsung dengan persalinan harus aktif mendorong ibu memberi ASI Eksklusif, dan mitos – mitos yang tidak benar seputar ASI dan susu formula harus dibongkar. Masyarakat harus dicerahkan bahwa ASI adalah asupan terbaik dan tidak tergantikan untuk bayi usia 0-6 bulan”, tegas Ummy Etty.

Baca juga:  7 Anak di Depok Alami Gagal Ginjal Akut, Dinkes Imbau Orang Tua Agar Waspada

Membangun generasi bangsa yang berkualitas akan sulit dilakukan bila tanpa memberi perhatian lebih pada aspek tumbuh kembang anak. Dalam konteks inilah, pemberian ASI eksklusif bayi 0-6 bulan menjadi sangat vital. Berbagai hasil riset ilmiah menunjukkan, ASI memiliki kandungan gizi dan nutrisi penting bagi bayi dan tidak bisa digantikan apa pun, dan bayi yang mendapat ASI hingga dua tahun, akan tumbuh lebih stabil secara emosional dan memiliki kecerdasan lebih tinggi dibanding bayi tidak mendapat ASI. Maka, pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi meningkatkan persentase pemberian ASI eksklusif. Diperlukan sosialisasi dan edukasi terusmenerus pentingnya ASI bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Veronika Scherbaum, ahli nutrisi dari Universitas Hohenheim, Jerman, menyatakan ASI ternyata berpotensi mengurangi peluang stunting pada anak berkat kandungan gizi mikro dan makro. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan.(Arifin)

 

 

Baca detikNews.co.id di Google Newsspot_img
Facebook Comment

Berita Terpopuler

Berita terbaru