25.4 C
Indonesia
Sen, 28 November 2022
close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

25.4 C
Indonesia
Senin, 28 November 2022 | 8:44:24 WIB

Kian Percaya Diri Komunitas Cak dan Ning Harap Pertunjukan Ludruk “The Luntas Surabaya” Meregenerasi Penonton

Reporter: Tri

Surabaya | detikNews – Luntas adalah sebuah kelompok ludruk di Surabaya, Jawa Timur. Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio disebut Luntas memiliki pendekatan kontemporer terhadap kesenian ludruk. Pementasan yang dilakukan menggunakan judul, efek suara, musik, kostum, property, hingga cerita yang lebih kekinian dan menarik perhatian anak muda.
Ludruk menjadi satu di antara kesenian khas Jawa Timur.

Luntas dibentuk pada 21 Januari 2016. Kata Luntas merupakan singkatan dari Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Suroboyo atau dalam bahasa Indonesia pementasan ludruk pemuda cap anak Surabaya. LUNTAS diambil dari nama tumbuhan yang banyak manfaatnya. Dalam bahasa Jawa sendiri luntas adalah sejenis semak yang bisa untuk obat , pagar rumah dan dapat dimakan sebagai lalapan beluntas. LUNTAS diharapkan menjadi obat kerinduan akan seni budaya ludruk, menjadi pagar budaya agar ludruk tetap terjaga, dan masih bisa dikonsumsi masyarakat dijaman yang serba modern.

Baca juga:  Reog Gembong Bawono Meriahkan Gebyar Nasional Gelar Budaya 42 Tahun HUT Pujakesuma Sekaligus Pengukuhan PD Pemuda Pujakesuma Asahan

Dengan banyak hadirnya penonton usia muda disitu membuktikan adanya regenerasi penonton dari massanya (jaman). Lain halnya bagi orang tua, mereka merasa balik nostalgia pada 30 tahun silam melalui munculnya pertunjukan ludruk baik dari konsep, penataan hingga dengan lakon yang dipentaskan masa kini di warung Mbah Cokro Prapen Surabaya, Sabtu (30/7/2022) malam.

Dihadiri, perwakilan dari komunitas Cak dan Ning yang merupakan dutanya Kota Surabaya, turut mendukung. Dalam sambutannya cak dan ning merupakan bagian dari pembangunan Kota Surabaya, tidak hanya bergerak di bidang wisata, namun bisa menjadi satu kekuatan para pemuda dan pemudi untuk mengubah Kota Surabaya menjadi lebih hebat lagi ke depannya. Ini kekuatan yang luar biasa bagi Surabaya,” melalui seni dan budaya khususnya Ludruk’.

Erland Setiawan atau yang populer dengan panggilan Cak Robetz Bayoned selaku sutradara sekaligus pendiri The Luntas punya alasan. Ia memiliki rasa kekhawatiran terhadap generasi muda sekarang terhadap ludruk, Ia bertekad bagaimanapun cara, ludruk ini harus tetap eksis dan pekerjaanya juga berjalan maksimal.Mengawali jadi ketua, Robert tidak merasa canggung. Semasa hidup para almarhum gurunya termasuk salah satunya pakde Sapari yang kini menjalani perawatan dirumah sakit dr Soetomo, ia sering menyaksikan bagaiman cara mereka memimpin dan mengarahkan anggota Ludruk . Sehingga saya tahu persis waktu itu saat masih ada mereka – mereka yang saya sebut guru” sambung Robert

Baca juga:  Pemkab Buteng Siapkan 1000 Talang Untuk Acara Kande - kandea Tolandona 2022

Untuk menjadi anggota Ludruk The Luntas sendiri tidak ada proses seleksi khusus, semua bisa menunjukan kreativitas nya diatas panggung karena, menejemen budaya tidak mentarget harus yang profesional, misalnya jika ada pemain yang sudah ada jadwal luar sibuk, lalu tidak serta merta harus dicopot atau diganti. Pergantian pemain dilakukan jika ada yang mengundrkan diri.Kalau mencari ganti, kata Robert, tidak harus orang hebat atau yang terkenal. Ia lebih memilih anak- anak muda yang memiliki semangat dan tekad. “Kita pilih anak-anak muda, Makannya tidak kehabisan kader,” kalau generasi pemain itu mudah namun yang juga kita gali ialah generasi penonton. tandas dia.

Baca juga:  Fahmi Arifan ST, M. Eng Salurkan Bantuan Fasilitas Iptek Penunjang Produktifitas Batik Pemalangan di Desa Cibelok

Tak ada pakem yang pasti terhadap pertunjukan ludruk, seperti jumlah pemain dan jumlah babak. Para pemain ludruk dituntut berimprovisasi dan mengembangkan jalan cerita yang sudah dibuat terlebih dahulu. Dalam pertunjukan, menari (ngremo) sembari berbicara sendiri mengungkapkan isi hati (kidungan) dengan kaki seringkali menghentak-hentak tanah lapang sehingga menimbulkan bunyi gedrak-gedruk. Dari sinilah kemungkinan asal kata ludruk.

Hingga saat ini ludruk bisa bertahan karena lakon-lakon yang dipentaskan sangat aktual dan akrab dengan budaya setempat. Tentu saja disampaikan dengan bahasa yang komunikatif dan disertai lawakan yang menghibur.(Tri)

Komentar

-Iklan Pembuatan Website Berita-spot_img

Berita Terpopuler

Sitialimah Aceh Meminta Perlindungan Hukum di Polres Nias

Nias, Gerbang Indonesia - Terjadi pengancaman atas diri Sitialimah Aceh yang dilakukan oleh sekelompok oknum keluarga TBN LS bersama dangan kawan-kawannya pada hari Sabtu...

Saat Perbaiki Mesin, Kernet Truk Ditabrak di Tol Jakarta Tangerang

Reporter: Sawijan Jakarta | detikNews.co.id - Disaat memperbaiki truknya yang mogok kernet truk berinisial HDR meninggal dunia di Jalan Tol Jakarta-Tangerang Km 04.300 pada Selasa...

Pj Walikota Dukung Komitmen Akreditasi RSUD Kumpulan Pane

Reporter: J. Saragih Tebing Tinggi| detikNews - Pemerintah Kota bersama jajaran UPTD RSUD dr H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi mendeklarasikan komitmen Akreditasi demi upaya mewujutkan...

Riswanto Tukang Becak, Kini Jadi Juragan Buah

Pemalang | detikNews - Adalah Riswanto seorang lelaki berusia 30 tahun, warga Kaligelang, Kecamatan Taman, Pemalang Jawa Tengah. Seorang yang mengalami pasang surutnya kehidupan,...

Penganiaya Ibu Rumah Tangga di Tarutung, berhasil Diringkus Sat Reskrim Polres Taput

Tapanuli Utara, Gerbang Indonesia - Setelah lima hari melarikan diri, tersangka penganiaya seorang ibu rumah tangga atas nama korban Stevy Simanjuntak ( 30 )...

Hujan Deras Disertai Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga di Desa Bontonyeleng

Reporter: Wahyudi Bulukumba | Gerbang Indonesia - Hujan deras disertai angin kencang menerjang beberapa titik di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), Tak terkecuali di Desa...
-Iklan Pembuatan Website Berita-spot_img
Berita terbaru
Berita Terkait