28.4 C
Indonesia
Sab, 3 Desember 2022
close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

28.4 C
Indonesia
Sabtu, 3 Desember 2022 | 12:17:07 WIB

Malam Satu Suro di Tanah Jawa

Reporter: Sawijan

detikNews.co.id | Pergantian Tahun Baru Masehi selalu dirayakan dengan ramai hingar bingar suka cita dimana mana. Sedangkan malam Tahun Baru Suro atau Hijriyah bagi orang Jawa selalu dirayakan dengan lek-lekan (tirakat semalam suntuk), bersemedi, menyepi ke puncak gunung, tepi laut, tempat keramat dan lain-lain. Itu sebagai wujud intropeksi diri, eling (ingat akan dirinya dihadapan Tuhan), lelaku agar kuat dari godaan.

Malam Satu Suro memang dianggap sakral bagi Umat Muslim karena sebagai pergantian tahun baru dalam kalender Hijriyah. Orang Jawa memberinya nama Bulan Suro. Bulan Suro versi sekarang yang dianut orang Jawa adalah ‘bulan Suro Sultan Agungan’, yang artinya bulan Suro di Jawa diperingati oleh orang yang merasa dirinya berdarah Jawa. Ini dibuktikan setiap peringatan Malam Satu Suro pasti akan diperingati sebagian besar orang Jawa yang walaupun dirinya diluar muslim (berbagai keyakinan). Inilah pengaruh kebijakan Sultan Agung Raja Mataram 1613-1640 M.

Baca juga:  Pucuk Keheningan Buya Syafi'i 

Kebijakan itu berdampak sangat besar untuk menunjukkan pengaruh dirinya sebagai raja besar,yang pada masanya mencapai puncak kejayaan Mataram. Dalam masa kejayaan itu bisa dilihat dengan kekuatan militernya, ekonominya kuat sehingga melahirkan karya karya sastra yang luar biasa dan kebijakan menentukan Satu Suro atau Muharram bersamaan dengan Satu Saka yang kemudian diberi nama tahun baru Jawa. Dengan demikian Sultan Agung berhasil menyebarkan ajaran Islam setelah hilangnya Walisanga.

Baca juga:  Cara Melaporkan Penipuan Online yang Efektif

Di pusat-pusat kebudayaan seperti Keraton Surakarta dan Yogyakarta juga melakukan acara ritual untuk menghormati Bulan Suro. Tepat tengah malam keraton Surakarta dalam pergantian tahun Suro dengan mengarak Kebo Bule Kyai Slamet sebagai cucuk lampah (penunjuk jalan agar diberi keselamatan kesejahteraan sebagai simbolis) dengan diikuti arakan pusaka dan masyarakat eks Karesidenan Surakarta. Sedangkan keraton Yogyakarta mengadakan mubeng atau keliling beteng keraton tujuh kali dengan tapa bisu (menahan bicara), yang artinya menjalani tirakat memohon pada Yang Esa dalam hatinya agar diberikan keselamatan sejahteraan.

Baca juga:  Inilah Sosok Pelukis Mata Uang dan Perangko Indonesia Bapak Mujirun Engraver

Semua yang dilakukan orang Jawa tak lepas dari kepercayaan keyakinan dalam dirinya. Dengan mawas diri orang Jawa yakin esensi lelaku yang dilakukan akan semakin mendekatkan diri atau wujud ungkapan permohonan pada yang menguasai dirinya dan dunia.

Salam bahagia (Fb) Suranta Ipong Bantul Jogja

Komentar

-Iklan Pembuatan Website Berita-spot_img

Berita Terpopuler

Sitialimah Aceh Meminta Perlindungan Hukum di Polres Nias

Nias, Gerbang Indonesia - Terjadi pengancaman atas diri Sitialimah Aceh yang dilakukan oleh sekelompok oknum keluarga TBN LS bersama dangan kawan-kawannya pada hari Sabtu...

Saat Perbaiki Mesin, Kernet Truk Ditabrak di Tol Jakarta Tangerang

Reporter: Sawijan Jakarta | detikNews.co.id - Disaat memperbaiki truknya yang mogok kernet truk berinisial HDR meninggal dunia di Jalan Tol Jakarta-Tangerang Km 04.300 pada Selasa...

Pj Walikota Dukung Komitmen Akreditasi RSUD Kumpulan Pane

Reporter: J. Saragih Tebing Tinggi| detikNews - Pemerintah Kota bersama jajaran UPTD RSUD dr H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi mendeklarasikan komitmen Akreditasi demi upaya mewujutkan...

Riswanto Tukang Becak, Kini Jadi Juragan Buah

Pemalang | detikNews - Adalah Riswanto seorang lelaki berusia 30 tahun, warga Kaligelang, Kecamatan Taman, Pemalang Jawa Tengah. Seorang yang mengalami pasang surutnya kehidupan,...

Penganiaya Ibu Rumah Tangga di Tarutung, berhasil Diringkus Sat Reskrim Polres Taput

Tapanuli Utara, Gerbang Indonesia - Setelah lima hari melarikan diri, tersangka penganiaya seorang ibu rumah tangga atas nama korban Stevy Simanjuntak ( 30 )...

Hujan Deras Disertai Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga di Desa Bontonyeleng

Reporter: Wahyudi Bulukumba | Gerbang Indonesia - Hujan deras disertai angin kencang menerjang beberapa titik di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), Tak terkecuali di Desa...
-Iklan Pembuatan Website Berita-spot_img
Berita terbaru
Berita Terkait